Sabtu, 18 Juni 2016

Tak Ada Gading yang Tak Retak

Sekapur sirih. Lembaran ucapan terima kasih yang biasa kita temui setelah cover. Baik di tugas makalah, skripsi, buku, dll. Kita akan menemukan kata yang hampir selalu ada. Tak ada gading yang tak retak. Bahwa penulis hanyalah seorang manusia biasa. Jadi jika ada kesalahan penulisan, maka itu diharapkan dapat dimaafkan. Meskipun penulis sudah mengerjakan dengan penuh kehati-hatian. Pasti ada celah kecil. Tempat kesalahan masuk. Menyebar. Terjadi. Diharapkan para pembeli tidak kecewa jika buku yang dia beli terdapat kesalahan dari penulisnya.

Bahkan gading yang terlihat kokoh pun. Terlihat kuat pun. Dapat retak. Maka si penulis dengan karyanya juga bisa alpa. Tidak ada yang benar-benar sempurna. Makna dari kutipan peribahasa Tidak ada gading yang tak retak. Bukan hanya soal penulis dan karyanya. Bukan juga gading. Manusia pun juga tak sempurna. Manusia tempat berjuta bahkan bermilyar kesalahan. Kesalahan yang dibuat dengan sadar maupun tidak. Semua manusia pasti pernah salah. pasti! kalau manusia bukan tempat kesalahan mungkin, peribahasa di atas tiada berguna. Kata maaf tak pernah tercipta. Ya kata maaf. Layaknya perban dan obat merah. Yang mampu mengobati luka tak terlihat akibat kesalahan kita.
Seseorang pernah bilang padaku, luka fisik bisa sembuh dengan mudah. meski sedikit meninggalkan bekas. Tapi kita akan lupa hal apa yang membuat luka itu. Tapi, luka akibat kesalahan orang lain. Luka akibatnya kata-kata orang lain sulit sekali hilang. bahkan bisa tidak hilang sama sekali. Kita akan terus ingat. Lalu menjelma jadi dendam. Di situlah kata maaf menjadi first aid bagi mereka yang terluka.

Berapa banyak luka yang kita terima??? jangan dulu bertanya begitu. kita tak selalu jadi korban. Pernah sesekali atau bahkan sering kita menjadi pelakunya. Bahkan buron. maka tanyakan juga berapa banyak luka yang kita buat? satu, dua, atau lebih? sudah kah kita mengobati semua luka tersebut?

Dan lagi yang paling sulit itu menyembuhkan luka masa lalu. ya masa lalu. Pernah terjebak kah engkau di masa lalu? masa lalu yang bahkan tak pernah ingin kau ingat. Karena itu sangat hitam. Ingin melupakan tapi semakin teringat. Bahkan malu rasanya jika seseorang tau masa lalu itu. Hei, pernah dengar kata-kata “masa depanmu masih putih, meski masa lalu mu sangat hitam” maksudnya, kau dan tentu saja aku harus memaafkan masa lalu. Ingatlah, jangan sampai melakukan kesalahan yang sama. Baahkan keledai makhluk yang paling bodoh, takkan jatuh pada lubang yang sama. Dan kau serta aku yang diberi akal oleh Tuhan yang Maha Esa. Takkan mungkin lebih bodoh dari keledai kan?

terus apa lagi? kau takut, gadis yang kau cintai pergi melarikan diri karena dosa masa lalumu? Apa lagi? kau takut dia, orang yang akan menjadi penanggung dosa-dosa menggantikan ayahmu, takkan menerima semuanya? bukankah kalau dia benar-benar siap maka semua kelemahan, kekurangan, kelebihan, kehebatanmu akan dia tampung? Tapi itu terdengar mudah secara teori kan? Realisasinya susah sekali. Aku juga takut. sangat takut. Bahkan membayangkannya saja aku ngeri. Akankah gadisku serta teman-temanku berlari setelah mengetahui itu? Tapi hidup harus terus berjalan meskipun gadisku pergi. Masih banyak teman-teman yang lain bukan? yang tentu saja dengan ketulusan yang luar biasa.

Mereka akan tau, jika aku mantan narapidana. Mereka akan tau juga aku bandar narkoba. Mereka akan tau aku pernah membunuh seseorang. Mereka akan tau bahwa aku seorang jalang. Mereka akan tau masa lalu ku yang hitam. Cepat atau lambat mereka akan tau. Mereka juga akan tau masa lalumu.
Hei ingat! itu masa lalu. Masa depan kita masih cerah. Putih bersinar. Maka melangkahlah hati-hati. Seperti keledai yang bodoh sekalipun. Tak ada gading yang tak retak. Bahkan gajah sang pemilik gading berusaha menerima itu.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar