Jadi dari dulu gue punya kebiasaan lihat-lihat foto kalo malam sudah mulai larut. Foto yang gue liat biasanya foto momen gue bersama temen-temen gue di sekolah. Dari SD, SMP, MA. Momen dikelas, di kantin. latiham ekskul. Diperpustakaan. Main dirumah temen. Main kerumah guru. Temen ngaji. Guru ngaji pokoknya banyak deh yah. nggak bisa gue sebutin satu per satu.
Gue sadar se sadar-sadarnya kalo gue waktu SD itu anti banget sama yang namanya kamera. Zaman gue SD dulu belum ada tuh HP yang ada kamera depannya (seinget gue), tongsis mah boro-boro. Kami waktu SD lebih perhatian sama buku dan alat-alat tulis dan jajan tentunya. Dan kalo nggak salah juga HP itu jadi barang mewah apalagi hp kamera. Artinya hanya beberapa anak di kelas gue yang punya hp kamera. Mereka suka foto-foto dikelas. Foto sama wali kelas juga. Foto sama guru lain yang mengajar dikelas kami. Dan gue tiap mau difoto gue lari. Nggak tau alasannya kenapa pokoknya gue lari. Gue minder bray. gue bantet. jelek. nggak tau mau kayak gimana. pasang tampang apa. Anak SD dulu mah boro-boro tau gaya bibir bebek. Kita mau cuman pasang senyuman senatural mungkin. Lah masalah gue kaku. kaku banget buat senyum. Jadinya foto gue waktu di kelas sedikit banget.
Selama enam tahun di kelas yang sama (nggak pindah-pindah dari kelas satu) menjadi suatu kelebihan kami anak-anak SD swasta. Kami bisa saling kenal, saling dekat, dalam waktu yang lama. Menginjak tahun terakhir di SD gue sudah mulai centil. Bisa senyum. nggak akkau lagi. Gue yang awalnya seperti gunung es. beku. dingin. kaku. saat itu mulai luwes dan bisa senyum. Dan tentu saja kalau temenku ada yang bawa hp kamera gue sedikit-sedikit minta foto. Ada temen foto gue nimbrung. Pas perpisahan pun sama. Tapi sayangnya penyakit minder gue itu sembuh hanya untuk foto aja. Masalah tampil didepan orang banyak gue masih sakit parah. Astaga.
Masa putih merah berlalu berganti jadi masa putih biru. Di SMP gue masih aja suka minder. Bedanya gue di SMP doyan poto-poto loh. terus gue juga sudah bisa cari temen sendiri. Tapi gue heran, waktu kelas satu temen gue rata-rata cowok semua. Entahlah. Disini kehidupan SMP gue lancar bak jalan tol di pulau jawa sana. Di SMP gue ikutan paskib dan disana gue bertemu keluarga baru. Gue masih inget kok N.A.O nya.
Yah namanya kalau kita sedang menyebrangi saamudera kehidupan, sesekali kita akan bertemu badai, di paskib smp ada salah satu senior cewek yang sepertinya kalo ada aku dia benci banget. Tak sampai situ, ada juga senior yang mengaku-ngaku suka aku, eh tapi jadiannya sama temen sekelasnya. Gue pada saat itu cuman anak kelas 2 SMP yang polos. Merasakan perasaan yang aneh. Benci melihat senior itu dengan pacarnya. (selanjutnya gue tau pasti itu cemburu). Dan juga ada seseorang angkatanku sendiri yang suka mengejekku. Aku sebel.Marah. Tapi gue masih mau berteman dengan orang itu.
Masa putih biru berganti lagi jadi masa putih abu. Disini kisah romantis dan virus merah jambu mulai menjangkiti. Jujur saja di MA gue jauh lebih baik dari SMP. suka poto dengan berbagai macam gaya, lebih berani mengajukan diri. Contoh nyatanya gue jadi ketua kelas dari kelas XI sampai kelas XII. Dan juga gue ikutan class meeting. Di MA gue mengikuti organisasi Paskib juga. Dan gue sangat senag sekali ketemu mereka.
Mimpi buruk itu dimulai saat kebodohan gue sendiri, kenapa? karena hal itu gue kehilangan banyak momen berharga. Bahkan sampai kuliah. Awal semester gue nggak ikut acara yang diselenggarakan jurussan. Satu tahun jadi makhluk kupu-kupu. Sungguh nyesel banet bray! Banyak momen terlewatkan.
Tadi gue lihat foto-foto pas acara jurusan itu. Dan wajah gue disitu dikit sekali. Minder seperti waktu SD takut akan tatapan mereka. Takut sama kakak tingkat. Temen gue di kampus cuma dia yang juga temen pas di aliyah. temen paskib juga. Kating yang gue kenal pun dulu nya kakak kelas gue di Aliyah. Entah lah. Gue bener-bener ngerasa minder. Ini diperparah dengan rutinitas gue waktu awal-awal semester yaitu KUPU-KUPU, Kuliah pulang. duh jadi temen gue nggak nambah-nambah deh!
Kegiatan kampus yang diadakan oleh HMJ jurusan cuma satu yang gue ikutin yaitu malam keakraban 2014. Disitu gue ngerasa peristiwa sakral ini jadi langkah awal gue dapet banyak temen. Kenal akrab dengen kakak tingkat. Tapi setelah makrab pun semua masih sama. Hanya saja mulut gue yang sedikit bawel bis angebantu gue dapet temen di kalangan cewek-cewek. Sumpah! gue nggak peduli dapet temen cowok. Si Yudo sama Si Putra udah cukup jadi temen cowok gue (mereka dulu temen smp gue) yang gue kenal di jurusan ini.
Kegiatan HMJ yang sangaaat sangaaat spesial yaitu Pekan Olahraga jurusan. Disini ajang akrab dengan kakak tingkat dan angkatan dengan basic olahraga tapi bukan buat cari beras. Dan itu gue nggak ikutan. Gue pikir halah! pulang sore, capek, buat apa coba?
Tapi image awal kuliah mulai menghilang, di tambah lagi gue punya temen yang cerewet, bawel dan ramah sama kakak tingkat, yah seenggaknya saat gue bersama mereka, gue jadi sedikit banyak tau nama-nama kakak tingkat. Sesungguhnya gue juga nggak tau persis kapan gue berubah nggak minder lagi. Mungkin sejak semester tiga yah. sejak gue kenal seseorang itu. Dia datang secepat angin, ya dia cowok. Ramah. baik. Dari sapaan di gazebo, kita jadi sering ketemu, ngobrol, bukan cuma dia sih, tapi temen-temen yang lain juga.
Perubahan drastis itu juga terjadi saat gue sudah nggak lagi digandeng (eh) gue nikmati kehidupan kampus gue dengan bahagia. Bersama mereka teman-teman baru gue. Tim. Saudara. Dari mereka gue bisa kenal deket dengen kakak tingkat.
Acara jurusan yang tahun 2014 nggak gue ikutin, sekarang gue jadi panitia nya dan gue ikutan jadi peserta. Seru banget!!! nggak yang seperti gue pikir waktu pas maba. Sayang banget ya kenapa nggak dari dulu gue ikut? pasti lebih berkesan lagi. Nyesel juga sih. Tapi yah mau gimana lagi.
Agustus nanti gue sudah masuk semester 5. 3 semester lagi dong wisuda. Gue harap gue bisa lebih dekat dengan mereka. Temen-temn di kampus. Dan juga memperbaiki silahturahmi dengan temen-temen SD dan SMP.
Pesen gue :
Jaga hubungan baik dengan teman lo dari sekarang, karena klo hubungannya udah mulai renggang, klo ketemu bakal jadi canggung. Bertemanlah dengan banyak orang, jangan jadi terlalu pendiam. Biar kelak jika lo udah berkeluarga, bakal ada cerita seru buat anak-anak lo.
Buat temen-temen smp gue, angkatan gue,
maaf klo gue sempet lost contact sama lo semua dari 2013 sampai sekarang. Gue pengen kumpul lagi kayak dulu. Gue nyesel, karena seseorang yang entah dari mana datangnya. Gue sama kalian jadi kayak gini. Semoga kalian masih inget gue. karena kalian tetep teman terbaik gue.
Sabtu, 28 Mei 2016
Minggu, 22 Mei 2016
The Destiny
Bau amis ikan di pasar ini hal yang
aku suka. Setiap hari aku selalu mengunjungi pedagang ikan untuk meminta belas
kasihan mereka. Biasanya jika aku menggunakan muka sedih,mereka akan iba lalu
memberikan aku ikan lezat. Ikan memang makanan kesukaan kucing kan? tapi tak
jarang juga pedagang menolak memberikan ikan kepadaku. Dan hal terburuknya,aku sering
dimandikan menggunakan air bekas rendaman ikan yang sangat amis. Aku sangat
benci disiram. Bulu-buluku basah dan lengket.Aku seperti kucing bodoh yang
berbau ikan. Apakah para pedagang ikan memang kejam ya? Padahal aku tidak
mencuri ikan-ikan mereka. Aku meminta baik-baik pada mereka. Apakah memang
nasibku, kucing kampung yang dibuang oleh pemiliknya di pasar kumuh ini.
ah!cukup
mengeluhnya .Kita belum berkenalan kan? Namaku pus (Karena pedagang ikan banyak
yang memanggilku begitu). Aku kucing kampung bertubuh sedang, berbulu kuning
keemasan. Aku sudah lima tahun tinggal di pasar palima ini. Usiaku? Aku juga
tidak tahu usia ku ini .Aku tidak tinggal sendirian disini. Kira-kira ada 20
ekor kucing kampung terlantar sepertiku yang tinggal di pasar ini. Banyak
sekali bukan? karena pasar ini sudah seperti tempat tinggal gratis bagi kucing-kucing
yang terlantar.
Aku
dan teman-temanku mengerti bahasa manusia. Jadi kami tahu apa saja yang mereka
bicarakan dan apa saja yang mereka tulis. Khususnya kami sangat tahu apabila
mereka benci kepada kami, para kucing terlantar ini. Untungnya para pedagang
tak mengerti bahasa kucing. Jadi kami tak perlu takut untuk membicarakan mereka
meskipun mereka ada di depan kami. Kami juga harus berhati-hati selama tinggal
di sini. Terkadang kami dikejar-kejar oleh satpam pasar, karena salah satu dari
kami mencuri ikan asin kecil salah satu pedagang.
Kalau
aku pikir betapa pelitnya manusia ini. Satu ekor ikan asin kecil saja
membuat kami dikejar-kejar sampai ke
jalan raya dan tragisnya lagi salah satu dari temanku, si kucing hitam
tertabrak mobil, karena dia berlari sampai ke tengah jalan. Si satpam yang melihat
itu bukannya menolong, tapi dia kembali masuk ke pasar. Aku dan teman-temanku
pun hanya diam mematung di trotoar. Kami menangis. Ah! Betapa sialnya nasib mu
hitam.
Itu
salah satu cerita sial kami dari 1001 nasib sial yang menanti .Tapi tenang saja,
di pasar ini masih ada pedagang yang sangat baik hati. kami para kucing
memberikan julukan untuknya, nenek para kucing. Pedagang ini menjual lilin dan
korek api. Hanya dua jenis barang itu saja yang dia jual tapi, nenek ini sering
membelikan kami ikan. Saat dia makan siang, nenek selalu memberikan kami
sedikit jatah makan siangnya.Betapa baiknya nenek ini. Nenek juga tak pernah mengeluh
meskipun terkadang dagangannya tidak laku satu buah pun. Beliau selalu tersenyum.
Manisnya senyumanmu nek, membuat aku menjadi damai.
Selain
nenek, ada juga salah satu pengunjung pasar yang baik hati. Beberapa hari yang
lalu kami sedang bermain mencari kucing, di mana ada satu kucing yang matanya
di tutup dan kucing yang lain harus bersembunyi. Salah satu temanku, si cerewet
bersembunyi di dekat gorong-gorong dibawah batu. Kemudian aku melihat ada gadis
cantik berkacamata yang melihat si cerewet. Gadis itu heran mengapa si cerewet
ada disitu. Jadi,dengan tangannya yang panjang dia menggapai ke arah si
cerewet. Dengan cepat gadis itu memasukkan cerewet ke dalam tas kecilnya. Lalu
si cerewet pun di bawa olehnya.
“kamu
terlantar ya? Mari pulang bersamaku. Kau lucu sekali. Di rumahku sudah banyak
teman-temanmu yang menanti”. Aku mendengar gadis itu berbicara kepada si
cerewet.
Gadis
yang baik bukan? Betapa beruntungnya si cerewet. Dia mendapatkan majikan yang
menyayanginya. Aku sedikit iri, tapi takdir untuk kucing itu berbeda-beda kan? takdir
buruk untuk si hitam yang mati ditabrak mobil. Takdir baik untuk si cerewet
yang di punggut orang. Dan untukku? aku tetap di pasar ini saja itu mungkin
juga berubah.
***
Hari
ini hari minggu. kenapa aku bisa tahu? Apakah aku punya kalender? Hp? Gadget?
Jangan bercanda kawan! Aku saja tidak mempunyai kertas berharga yang sering
diperebutkan itu (uang). Lalu bagaimana caranya aku bisa membeli benda-benda
itu? Aku tahu hari ini hari minggu karena para pedagang ikan berkata seperti
itu. Hari minggu biasanya para pedagang akan kebanjiran pembeli. Karena hari
Minggu adalah hari libur. Pasar akan buka lebih awal dan selesai lebih siang. Pasar
yang pada hari biasa buka pukul 06.00 pagi dan tutup pukul 10.00 pagi akan
berubah menjadi buka pukul 05.00 pagi dan tutup pukul 12.00 siang.
Pagi
ini, diluar pasar langit masih gelap. Udara dingin masih berhembus di
lingkungan pasar. Lampu-lampu jalan masih menyala. Sinar kuningnya menyinari
jalanan di depan pasar seolah menggantikan cahaya mentari yang masih tertidur
di ufuk timur. Para pedagang pun sudah bersiap-siap membuka toko dan tempat
dagangan mereka. Bahkan beberapa diantara mereka sudah siap untuk menawarkan
dagangannya. Para pembeli pun sudah banyak yang datang. Kemudian mereka
berbondong-bondong memasuki pasar. Mereka banyak memakai jaket, karena udara
masih dingin sekali.
Aku
pun malas untuk keluar hanya untuk melihat para pedagang. Aku memilih berbaring
disini saja, dipangkuan nenek. Kulihat teman-teman kucingku masih bersembunyi
di bawah kursi para pedagang. Mereka terlelap. Bermimpi tentang ikan. Alangkah
lucunya wajah teman-teman saat tertidur. Seperti malaikat (padahal bertemu
malaikat saja aku belum pernah). Ada juga yang tetap terjaga . Saling
berpelukan agar badan mereka tetap hangat. Hari ini nenek terlihat bersemangat
untuk menawarkan dagangannya. Aku pun ingin membantu, tapi aku hanya bisa
bersuara meong saja.
“pus
kamu ingin membantu nenek ya? Baiklah.Nanti jika barang-barang nenek terjual
semua,nenek akan membeli ikan yang sangat besar untukmu pus”. Nenek tertawa
melihatku
Hore
ikan! Aku berteriak dalam hati. Setelah dagangan nenek habis terjual. Nenek tak
lupa menepati janjinya padaku. Aku
mendapatkan 1 ekor ikan sarden. Aku panggil teman-temanku untuk menikmati ikan
ini bersama-sama. Sementara aku memakan ikan, ku lihat nenek selalu memegangi
kepalanya.Wajahnya juga terlihat pucat. Apakah Nenek sakit? Mungkin nenek
kelelahan.
Esok
harinya Nenek tidak berjualan. Ia digantikan oleh seorang ibu yang kira-kira
usianya sama dengan pedagang di sebelahnya (sebelumnya aku tahu pedagang itu
berusia 40 tahun). Mungkin itu anak si nenek. Tapi nenek kemana? Apakah benar
nenek kesayangan kami sedang sakit? Yang pasti sejak nenek tidak berjualan lagi
kami kehilangan orang baik yang selalu memberi kami makan. Aku sedih
sekali.Bahkan ada teman kucing ku si putih menangis.
“Pus
aku lapar.Biasanya nenek yang selalu memberi kita makan.Mencari makan sendiri
tidak membuat perutku kenyang pus,”
“Mau
bagaimana lagi putih, Nenek kita mungkin sedang sakit dirumahnya.” Aku mencoba
menghibur putih.
***
Sudah
genap satu bulan sejak nenek tak datang ke pasar untuk berjualan. Ada rasa
rindu juga buat nenek. Anehnya para pedagang ikan yang selalu mencoba mengusir
kami saat kami datang, kini berubah menjadi pemurah. Apakah kebaikan hati nenek
berhasil menyihir para pedagang ikan yang pelit ini? Aku tidak tahu. Yang aku
tahu hari ini kami pesta ikan. Bukan hanya ikan, teman-temanku ada juga yang diberi
udang dan cumi. Wah! ini nikmat yang besar. Kami tidak takut lagi kelaparan.
Setelah
pesta ikan kami di bawa oleh beberapa pedagang ikan menuju ke pos satpam. Oh! Apa
ini? Apakah pesta ikan tadi adalah jebakan untuk membuat kami akan dihukum lagi?
Aku ketakutan.Teman-temanku pun ingin kabur. Namun, kekuatan kucing tidak
sebanding dengan kekuatan manusia ini. Akankah kami di siram lagi? Atau lebih
parah dari itu? Alangkah sialnya nasib kami.
Ternyata
kami salah sangka. Si satpam yang sekejam harimau telah berubah jadi selembut
merpati. Bahkan satpam pasar ini pun membuatkan kami tempat khusus untuk tidur.
Sungguh aku tidak pernah berpikir bahwa mereka akan memperlakukan kami dengan
baik seperti saat ini. Tempat tidur itu berada di sebelah ruangan satpam. Ruang
kecil. Bekas gudang yang sudah tidak terpakai . Didalamnya sudah tersusun
rak-rak kecil beralaskan kain
“ini
tempat tidur kalian. Tapi ingat,jangan kalian buat tempat ini
berantakkan.Maafkan aku ya, karena dulu pernah mengejar kalian dan membuat
salah satu dari teman kalian mati tertabrak mobil.”
Mendengar
kata maaf yang tulus itu, kami sangat senang. Kami pun mencakar-cakar kaki si
satpam dengan lembut sebagai tanda bahwa kami memaafkan dia. Hore! Teman-teman
kita tidak perlu tidur di bawah bangku-bangku pedagang lagi. Tidak akan
kedinginan. Sekarang kita punya tempat tidur yang nyaman. Semua teman-temanku
pun mencoba tempat tidur itu. Ada beberapa yang pergi untuk memberitahukan pada
kucing yang lain. Rasanya ada yang kurang. Nenek!!! Apa kabar nenek ya?
Aku
bergegas meninggalkan ruang tempat tidur kami menuju kios nenek . Dan kau tahu?
Ada!!! Nenek ada disana! Dengan senyum di wajahnya, ia memandang kearahku.
Beliau diam. Mengapa? Bukankah seharusnya dia menawarkan dagangannya? Kenapa
anaknya masih menggantikan nenek? Nenek kan sudah sembuh. Aku bingung. Ku
dekati nenek dan menyapanya. Tapi yang merespon anaknya.
“o,kamu si pus ya?” kemudian dia
meletakkan aku di atas pangkuannya. Aduh,kenapa ibu ini? Aku lalu turun dan
menuju kepangkuan nenek. Ibu itu heran. Dia menatap. Terdiam sejenak.
“si
pus nenek yang biasa berjualan di sini sudah meninggal.Sudah satu bulan yang
lalu. Ibuku pus, sudah meninggal. Kau mungkin tidak mengerti apa yang ku
katakan pus. Semua pedagang ikan yang berubah, ini karena ibuku. Dia selalu
menasihati mereka. Sampai saat ibuku telah tiada. Mereka pun sadar.”
Tentu
saja aku mengerti apa yang ibu ini ucapkan tapi, aku bingung nenek yang kulihat
ini siapa? Nenek yang kulihat pun tersenyum. Kemudian dia menghilang. Semua
pedagang berkumpul di dekat anak si nenek. Ternyata nenek meninggal karena
sakit. Selama ini beliau bekerja keras sehingga mengabaikan kesehatannya. Dan
tempat tidur di dekat pos satpam itu sebelumnya dikerjakan oleh nenek karena
belum selesai si satpam lah yang menyelesaikannya. Nenek sangat menyukai kucing
namun, dia tak pernah bisa memelihara kucing. Hal itu yang menjelaskan mengapa
beliau selalu baik kepada kami. Para kucing terlantar.
Ternyata
di dunia ini masih ada manusia baik yang peduli kepada binatang seperti kami. Selama
ini aku berpikir manusia itu kejam. Kucing yang tak bersalah pun dibuang.
Sekarang pandanganku kepada manusia sudah berubah. Ini berkat nenek. Aku si
Pus. Kucing terlantar. Aku dan teman-temanku masih tinggal di pasar palima.Takdir
kucing itu berbeda-beda kan? Takdir buruk untuk si hitam yang mati tertabrak
mobil. Takdir baik untuk si cerewet yang dipungut oleh orang. Dan takdir bagiku
juga teman-temanku sedikit lebih baik yang tetap tinggal di pasar kumuh. Tak
takut lagi kelaparan ataupun disiram air bekas ikan oleh pedagang.
Jumat, 20 Mei 2016
Ada Apa Dengan IPK?
Indeks Prestasi Kumulatif gue merosot lagi. Meskipun nggak terlalu nyungsep. Tapi hal ini cukup membuat gue 'bahagia'. Bayangkan coba bray. Semester satu kemaren IPK gue menyentuh angka 3.52. Wihh. keren kan? tapi sekarang? semester empat. apa mau di kata. IPK gue terjun bebas ke angka 3.37. Hayati sedih bang.
semester ini yang bersinar sesuai dengan golongan darah gue. B. dari 8 mata kuliah A gue cuma 2. Padahal gue rajin masuk. tugas selalu buat dan kumpul tepat waktu. Tapi sayangnya kerajinan gue ini kalah sama orang-orang yang jarang masuk. Bahkan tugas juga jarang buat. Orang-orang itu mendapat nilai A beruntun. sehingga membuat IPK mereka berada di atas gunung.
Gue iri? jelas sekali bukan. waktu yang gue korbankan bahkan uang saku gue. yang bia dibelikan setumpuk coklat merk ratu perak. Harus gue relakan untuk membayar bis ke kampus. Demi menuntut ilmu. Tapi ternyata nilai dari dosen susah di tebak bray. Yang kita pikir bakal dapat A eh ternyata B. yang kita pikir dapat B eh ternyata C. woooooooooooooooo. emezing!!!!
Gue masih ingat semester dua kemarin satu mata kuliah gue dapet C. untuk pertama kalinya sodara-sodara. disusul dengan mata kuliah dari dosen yang saban hari setiap ngajar selalu mengolok-olok gue. yang ngebuat nama gue terkenal seantero kelas. Semester dua gue mengoleksi 2 C. Dan karena hadiah terindah dari 2 dosen tercinta itulah membuat gue harus ikut Semester Pendek di usia perkuliahan yang masih seumur jagung. Sialnya lagi hanya satu mata kuliah ajaj yang gue sp-in karena mata kuliah satunya nilainya terlambat keluar. pikir positip dah. Semester pendeknya membuat puasa jadi tak terasa (Semester Pendek 2 minggu terakhir dibulan puasa). Alhamdulillah nilai yang gue dapetin adalah A.
Dan pengalaman semester dua harus rela gue ulangin. Karena semester 3 kemarin gue (lagi-lagi) dapet C (satu-satunya nilai C disemester 3.Merusak pemandangan aja.). Rencananya gue mau SP in dua mk sih (sisa satu mk dari semester 2 dan satu mk dari semester 3 yang dapet C). Tapi jadwalnya tabrakan. Masalah lagi deh. Alhasil gue mengambil mata kuliah atas. Untuk mengisi kekosongan tiga sks.
Lantas gue cerita sama kating gue (dia juga kakak kelas waktu gue sma) soal IPK dan Sp gue.
"Kak, gue ambil sp mikro 2 sama kebanksentralan. menurut kakak gimana?"
"nggak masalah."
"IPK gue turun lagi kak, Semester satu dulu aja 3,51 sekarang, susah bener"
"kualat karena kamu ngejek IPK kakak"
"Demi kerang ajaib! gue nggak pernah ngatain kakak"
"amnesia dadakan nih ye"
astaga kating gue ngomong kayak gitu. seinget gue sih gue nggak pernah ngejek, ngehina, IPK nya dia. Dia kan pinter. Tapi entahlah. gue juga bingung. Kenapa IPK gue terus turun. Gue mau IPK balik kayak dulu. kayak semester satu. 3,52. biar cumlaude.
Sisi baik dari IPK gue yang terus turun itu, alhamdulillah gue selalu dapet 24 sks setiap semesternya. dan itu ngebantu gue tamat dalam waktu singkat. jangan lama-lama kuliah deh. biar uang yang dikeluarkan jadi sedikit. biar cepet kerja dan cepet nikah. wkwkwk.
Singkat cerita, meskipun kerap kali dikecewakan oleh akademik, karena nilai-nilai yang muncul sesuai goldar gue B. tapi gue harus bersyukur, untung nggak sesuai nama D. berabe kan. Dan juga harus bersyukur lagi , masih banyak temen-temen gue yang nilainya dibawah gue. Dan nilai gue masih dikatakan bagus kok.
berapapun IPK gue yang penting sks gue aman dah!
salam coklat :3
salam coklat :3
Selasa, 17 Mei 2016
Short Story- Side boy
Kirana pernah bercerita padaku bahwa dia menyukai seseorang. Entah sejak kapan sahabatku ini sudah jatuh cinta (lagi). Aku dan kirana berteman sejak kelas satu sma. Aku sahabat pertama nya di kelas. Karena kirana anaknya pemalu. Sementara aku yang malu-maluin. Aku yang pertama kali mengajak kirana berkenalan. Wajar kan jika aku, seorang cowok tulen nan ganteng mau berkenalan dengan cewek manis, feminim seperti kirana. Mulai saat itu aku , bayu apriaji menjadi temannya. plus superheronya.
Sekarang aku dan kirana kembali bertemu. Sama-sama kuliah di universitas negeri di kota ini. Jurusan yang sama pula. Aku masih tetap temannya dan tentu saja masih menjadi superheronya. Semester satu, dua, dia masih menempel padaku. semester tiga dia mengenal seseorang. Laki-laki tinggi. sepertiku. Tapi bedanya dia lebih kurus dariku.
Laki-laki inilah yang disukai kirana. Setiap kami bersama, kirana selalu bercerita tentang dia. Aku tau dari sinar matanya. Bahwa kirana menyukai laki-laki ini. Kunyuk satu ini bisa juga membuat kirana jatuh hati. Entahlah mulai saat itu aku memata-matai si kunyuk.
faktanya si kunyuk sudah punya pacar. Beda kampus sih. Kirana tau. Dan aku sering melihat kirana pasang fake smile. Kiran, kamu tidak berbakat buat berbohong. Aku tau kamu sedih. Apa aku harus merusak hubungan mereka? biar kunyuk itu jadi pacar kamu? Aku yakin kamu pasti nggak mau kan kiran.
Tiap aku ke kantin, kunyuk ini selalu ada. Bareng kirana tentunya. Pengen aku ajak berantem. Tapi nanti kirana malah marah. Jadi pngamat memang repot. Seperti ini. Kirana di kasih nasihat malah ngeyel. Bilangnya nggak suka. Tapi perhatiannya nunjukkan kalau dia itu suka.
Sampai hari ini kirana masih suka. Sudah lebih dari empat bulan. Berarti kirana memang bener-bener suka. cinta. Terus aku harus gimana? kunyuk itu nggak bakal putus lah. ceweknya cantik. Bidadari. sampai-sampai aku juga naksir sama ceweknya si kunyuk.
Pernah waktu itu aku mengotak-atik notebook kirana. Dia sampai buat cerita tentang kunyuk itu. Ceritanya belum selesai. Kisah kirana dan cinta bertepuk sebelah tangannya. Entah dia bodoh. atau polos. lugu. Aku ngak tau. Kirana sudah seperti pahlawan bagi si kunyuk. seperti merk deodoran R*x*na. Setia setiap saat.
Aku bayu. sudah empat tahun jadi teman kirana, sekaligus superheronya. Tapi untuk kali ini aku nggak bisa bantu. Masalah hati itu kompleks. Sangat sulit dibanding ngerjain soal matematikanya pak Werdi. Satu-satunya pilihan untuk kirana adalah berhenti dan menyerah.
Langganan:
Postingan (Atom)