Sekapur sirih. Lembaran ucapan
terima kasih yang biasa kita temui setelah cover. Baik di tugas makalah, skripsi,
buku, dll. Kita akan menemukan kata yang hampir selalu ada. Tak ada gading yang tak retak.
Bahwa penulis hanyalah seorang manusia biasa. Jadi jika ada kesalahan
penulisan, maka itu diharapkan dapat dimaafkan. Meskipun penulis sudah
mengerjakan dengan penuh kehati-hatian. Pasti ada celah kecil. Tempat kesalahan
masuk. Menyebar. Terjadi. Diharapkan para pembeli tidak kecewa jika buku yang
dia beli terdapat kesalahan dari penulisnya.
Bahkan gading yang terlihat kokoh pun. Terlihat kuat pun. Dapat retak. Maka si penulis dengan karyanya juga bisa alpa. Tidak ada yang benar-benar sempurna. Makna dari kutipan peribahasa Tidak ada gading yang tak retak. Bukan hanya soal penulis dan karyanya. Bukan juga gading. Manusia pun juga tak sempurna. Manusia tempat berjuta bahkan bermilyar kesalahan. Kesalahan yang dibuat dengan sadar maupun tidak. Semua manusia pasti pernah salah. pasti! kalau manusia bukan tempat kesalahan mungkin, peribahasa di atas tiada berguna. Kata maaf tak pernah tercipta. Ya kata maaf. Layaknya perban dan obat merah. Yang mampu mengobati luka tak terlihat akibat kesalahan kita.
Seseorang pernah bilang padaku,
luka fisik bisa sembuh dengan mudah. meski sedikit meninggalkan bekas. Tapi
kita akan lupa hal apa yang membuat luka itu. Tapi, luka akibat kesalahan orang
lain. Luka akibatnya kata-kata orang lain sulit sekali hilang. bahkan bisa
tidak hilang sama sekali. Kita akan terus ingat. Lalu menjelma jadi dendam. Di
situlah kata maaf menjadi first aid bagi mereka yang terluka.
Berapa banyak luka yang kita
terima??? jangan dulu bertanya begitu. kita tak selalu jadi korban. Pernah
sesekali atau bahkan sering kita menjadi pelakunya. Bahkan buron. maka tanyakan
juga berapa banyak luka yang kita buat? satu, dua, atau lebih? sudah kah kita
mengobati semua luka tersebut?
Dan lagi yang paling sulit itu
menyembuhkan luka masa lalu. ya masa lalu. Pernah terjebak kah engkau di masa
lalu? masa lalu yang bahkan tak pernah ingin kau ingat. Karena itu sangat
hitam. Ingin melupakan tapi semakin teringat. Bahkan malu rasanya jika
seseorang tau masa lalu itu. Hei, pernah dengar kata-kata “masa depanmu masih
putih, meski masa lalu mu sangat hitam” maksudnya, kau dan tentu saja aku harus
memaafkan masa lalu. Ingatlah, jangan sampai melakukan kesalahan yang sama.
Baahkan keledai makhluk yang paling bodoh, takkan jatuh pada lubang yang sama.
Dan kau serta aku yang diberi akal oleh Tuhan yang Maha Esa. Takkan mungkin
lebih bodoh dari keledai kan?
terus apa lagi? kau takut, gadis
yang kau cintai pergi melarikan diri karena dosa masa lalumu? Apa lagi? kau
takut dia, orang yang akan menjadi penanggung dosa-dosa menggantikan ayahmu,
takkan menerima semuanya? bukankah kalau dia benar-benar siap maka semua
kelemahan, kekurangan, kelebihan, kehebatanmu akan dia tampung? Tapi itu
terdengar mudah secara teori kan? Realisasinya susah sekali. Aku juga takut.
sangat takut. Bahkan membayangkannya saja aku ngeri. Akankah gadisku serta
teman-temanku berlari setelah mengetahui itu? Tapi hidup harus terus berjalan
meskipun gadisku pergi. Masih banyak teman-teman yang lain bukan? yang tentu
saja dengan ketulusan yang luar biasa.
Mereka akan tau, jika aku mantan
narapidana. Mereka akan tau juga aku bandar narkoba. Mereka akan tau aku pernah
membunuh seseorang. Mereka akan tau bahwa aku seorang jalang. Mereka akan tau
masa lalu ku yang hitam. Cepat atau lambat mereka akan tau. Mereka juga akan
tau masa lalumu.
Hei ingat! itu masa lalu. Masa
depan kita masih cerah. Putih bersinar. Maka melangkahlah hati-hati. Seperti
keledai yang bodoh sekalipun. Tak ada gading yang tak retak. Bahkan gajah sang
pemilik gading berusaha menerima itu.