Bau amis ikan di pasar ini hal yang
aku suka. Setiap hari aku selalu mengunjungi pedagang ikan untuk meminta belas
kasihan mereka. Biasanya jika aku menggunakan muka sedih,mereka akan iba lalu
memberikan aku ikan lezat. Ikan memang makanan kesukaan kucing kan? tapi tak
jarang juga pedagang menolak memberikan ikan kepadaku. Dan hal terburuknya,aku sering
dimandikan menggunakan air bekas rendaman ikan yang sangat amis. Aku sangat
benci disiram. Bulu-buluku basah dan lengket.Aku seperti kucing bodoh yang
berbau ikan. Apakah para pedagang ikan memang kejam ya? Padahal aku tidak
mencuri ikan-ikan mereka. Aku meminta baik-baik pada mereka. Apakah memang
nasibku, kucing kampung yang dibuang oleh pemiliknya di pasar kumuh ini.
ah!cukup
mengeluhnya .Kita belum berkenalan kan? Namaku pus (Karena pedagang ikan banyak
yang memanggilku begitu). Aku kucing kampung bertubuh sedang, berbulu kuning
keemasan. Aku sudah lima tahun tinggal di pasar palima ini. Usiaku? Aku juga
tidak tahu usia ku ini .Aku tidak tinggal sendirian disini. Kira-kira ada 20
ekor kucing kampung terlantar sepertiku yang tinggal di pasar ini. Banyak
sekali bukan? karena pasar ini sudah seperti tempat tinggal gratis bagi kucing-kucing
yang terlantar.
Aku
dan teman-temanku mengerti bahasa manusia. Jadi kami tahu apa saja yang mereka
bicarakan dan apa saja yang mereka tulis. Khususnya kami sangat tahu apabila
mereka benci kepada kami, para kucing terlantar ini. Untungnya para pedagang
tak mengerti bahasa kucing. Jadi kami tak perlu takut untuk membicarakan mereka
meskipun mereka ada di depan kami. Kami juga harus berhati-hati selama tinggal
di sini. Terkadang kami dikejar-kejar oleh satpam pasar, karena salah satu dari
kami mencuri ikan asin kecil salah satu pedagang.
Kalau
aku pikir betapa pelitnya manusia ini. Satu ekor ikan asin kecil saja
membuat kami dikejar-kejar sampai ke
jalan raya dan tragisnya lagi salah satu dari temanku, si kucing hitam
tertabrak mobil, karena dia berlari sampai ke tengah jalan. Si satpam yang melihat
itu bukannya menolong, tapi dia kembali masuk ke pasar. Aku dan teman-temanku
pun hanya diam mematung di trotoar. Kami menangis. Ah! Betapa sialnya nasib mu
hitam.
Itu
salah satu cerita sial kami dari 1001 nasib sial yang menanti .Tapi tenang saja,
di pasar ini masih ada pedagang yang sangat baik hati. kami para kucing
memberikan julukan untuknya, nenek para kucing. Pedagang ini menjual lilin dan
korek api. Hanya dua jenis barang itu saja yang dia jual tapi, nenek ini sering
membelikan kami ikan. Saat dia makan siang, nenek selalu memberikan kami
sedikit jatah makan siangnya.Betapa baiknya nenek ini. Nenek juga tak pernah mengeluh
meskipun terkadang dagangannya tidak laku satu buah pun. Beliau selalu tersenyum.
Manisnya senyumanmu nek, membuat aku menjadi damai.
Selain
nenek, ada juga salah satu pengunjung pasar yang baik hati. Beberapa hari yang
lalu kami sedang bermain mencari kucing, di mana ada satu kucing yang matanya
di tutup dan kucing yang lain harus bersembunyi. Salah satu temanku, si cerewet
bersembunyi di dekat gorong-gorong dibawah batu. Kemudian aku melihat ada gadis
cantik berkacamata yang melihat si cerewet. Gadis itu heran mengapa si cerewet
ada disitu. Jadi,dengan tangannya yang panjang dia menggapai ke arah si
cerewet. Dengan cepat gadis itu memasukkan cerewet ke dalam tas kecilnya. Lalu
si cerewet pun di bawa olehnya.
“kamu
terlantar ya? Mari pulang bersamaku. Kau lucu sekali. Di rumahku sudah banyak
teman-temanmu yang menanti”. Aku mendengar gadis itu berbicara kepada si
cerewet.
Gadis
yang baik bukan? Betapa beruntungnya si cerewet. Dia mendapatkan majikan yang
menyayanginya. Aku sedikit iri, tapi takdir untuk kucing itu berbeda-beda kan? takdir
buruk untuk si hitam yang mati ditabrak mobil. Takdir baik untuk si cerewet
yang di punggut orang. Dan untukku? aku tetap di pasar ini saja itu mungkin
juga berubah.
***
Hari
ini hari minggu. kenapa aku bisa tahu? Apakah aku punya kalender? Hp? Gadget?
Jangan bercanda kawan! Aku saja tidak mempunyai kertas berharga yang sering
diperebutkan itu (uang). Lalu bagaimana caranya aku bisa membeli benda-benda
itu? Aku tahu hari ini hari minggu karena para pedagang ikan berkata seperti
itu. Hari minggu biasanya para pedagang akan kebanjiran pembeli. Karena hari
Minggu adalah hari libur. Pasar akan buka lebih awal dan selesai lebih siang. Pasar
yang pada hari biasa buka pukul 06.00 pagi dan tutup pukul 10.00 pagi akan
berubah menjadi buka pukul 05.00 pagi dan tutup pukul 12.00 siang.
Pagi
ini, diluar pasar langit masih gelap. Udara dingin masih berhembus di
lingkungan pasar. Lampu-lampu jalan masih menyala. Sinar kuningnya menyinari
jalanan di depan pasar seolah menggantikan cahaya mentari yang masih tertidur
di ufuk timur. Para pedagang pun sudah bersiap-siap membuka toko dan tempat
dagangan mereka. Bahkan beberapa diantara mereka sudah siap untuk menawarkan
dagangannya. Para pembeli pun sudah banyak yang datang. Kemudian mereka
berbondong-bondong memasuki pasar. Mereka banyak memakai jaket, karena udara
masih dingin sekali.
Aku
pun malas untuk keluar hanya untuk melihat para pedagang. Aku memilih berbaring
disini saja, dipangkuan nenek. Kulihat teman-teman kucingku masih bersembunyi
di bawah kursi para pedagang. Mereka terlelap. Bermimpi tentang ikan. Alangkah
lucunya wajah teman-teman saat tertidur. Seperti malaikat (padahal bertemu
malaikat saja aku belum pernah). Ada juga yang tetap terjaga . Saling
berpelukan agar badan mereka tetap hangat. Hari ini nenek terlihat bersemangat
untuk menawarkan dagangannya. Aku pun ingin membantu, tapi aku hanya bisa
bersuara meong saja.
“pus
kamu ingin membantu nenek ya? Baiklah.Nanti jika barang-barang nenek terjual
semua,nenek akan membeli ikan yang sangat besar untukmu pus”. Nenek tertawa
melihatku
Hore
ikan! Aku berteriak dalam hati. Setelah dagangan nenek habis terjual. Nenek tak
lupa menepati janjinya padaku. Aku
mendapatkan 1 ekor ikan sarden. Aku panggil teman-temanku untuk menikmati ikan
ini bersama-sama. Sementara aku memakan ikan, ku lihat nenek selalu memegangi
kepalanya.Wajahnya juga terlihat pucat. Apakah Nenek sakit? Mungkin nenek
kelelahan.
Esok
harinya Nenek tidak berjualan. Ia digantikan oleh seorang ibu yang kira-kira
usianya sama dengan pedagang di sebelahnya (sebelumnya aku tahu pedagang itu
berusia 40 tahun). Mungkin itu anak si nenek. Tapi nenek kemana? Apakah benar
nenek kesayangan kami sedang sakit? Yang pasti sejak nenek tidak berjualan lagi
kami kehilangan orang baik yang selalu memberi kami makan. Aku sedih
sekali.Bahkan ada teman kucing ku si putih menangis.
“Pus
aku lapar.Biasanya nenek yang selalu memberi kita makan.Mencari makan sendiri
tidak membuat perutku kenyang pus,”
“Mau
bagaimana lagi putih, Nenek kita mungkin sedang sakit dirumahnya.” Aku mencoba
menghibur putih.
***
Sudah
genap satu bulan sejak nenek tak datang ke pasar untuk berjualan. Ada rasa
rindu juga buat nenek. Anehnya para pedagang ikan yang selalu mencoba mengusir
kami saat kami datang, kini berubah menjadi pemurah. Apakah kebaikan hati nenek
berhasil menyihir para pedagang ikan yang pelit ini? Aku tidak tahu. Yang aku
tahu hari ini kami pesta ikan. Bukan hanya ikan, teman-temanku ada juga yang diberi
udang dan cumi. Wah! ini nikmat yang besar. Kami tidak takut lagi kelaparan.
Setelah
pesta ikan kami di bawa oleh beberapa pedagang ikan menuju ke pos satpam. Oh! Apa
ini? Apakah pesta ikan tadi adalah jebakan untuk membuat kami akan dihukum lagi?
Aku ketakutan.Teman-temanku pun ingin kabur. Namun, kekuatan kucing tidak
sebanding dengan kekuatan manusia ini. Akankah kami di siram lagi? Atau lebih
parah dari itu? Alangkah sialnya nasib kami.
Ternyata
kami salah sangka. Si satpam yang sekejam harimau telah berubah jadi selembut
merpati. Bahkan satpam pasar ini pun membuatkan kami tempat khusus untuk tidur.
Sungguh aku tidak pernah berpikir bahwa mereka akan memperlakukan kami dengan
baik seperti saat ini. Tempat tidur itu berada di sebelah ruangan satpam. Ruang
kecil. Bekas gudang yang sudah tidak terpakai . Didalamnya sudah tersusun
rak-rak kecil beralaskan kain
“ini
tempat tidur kalian. Tapi ingat,jangan kalian buat tempat ini
berantakkan.Maafkan aku ya, karena dulu pernah mengejar kalian dan membuat
salah satu dari teman kalian mati tertabrak mobil.”
Mendengar
kata maaf yang tulus itu, kami sangat senang. Kami pun mencakar-cakar kaki si
satpam dengan lembut sebagai tanda bahwa kami memaafkan dia. Hore! Teman-teman
kita tidak perlu tidur di bawah bangku-bangku pedagang lagi. Tidak akan
kedinginan. Sekarang kita punya tempat tidur yang nyaman. Semua teman-temanku
pun mencoba tempat tidur itu. Ada beberapa yang pergi untuk memberitahukan pada
kucing yang lain. Rasanya ada yang kurang. Nenek!!! Apa kabar nenek ya?
Aku
bergegas meninggalkan ruang tempat tidur kami menuju kios nenek . Dan kau tahu?
Ada!!! Nenek ada disana! Dengan senyum di wajahnya, ia memandang kearahku.
Beliau diam. Mengapa? Bukankah seharusnya dia menawarkan dagangannya? Kenapa
anaknya masih menggantikan nenek? Nenek kan sudah sembuh. Aku bingung. Ku
dekati nenek dan menyapanya. Tapi yang merespon anaknya.
“o,kamu si pus ya?” kemudian dia
meletakkan aku di atas pangkuannya. Aduh,kenapa ibu ini? Aku lalu turun dan
menuju kepangkuan nenek. Ibu itu heran. Dia menatap. Terdiam sejenak.
“si
pus nenek yang biasa berjualan di sini sudah meninggal.Sudah satu bulan yang
lalu. Ibuku pus, sudah meninggal. Kau mungkin tidak mengerti apa yang ku
katakan pus. Semua pedagang ikan yang berubah, ini karena ibuku. Dia selalu
menasihati mereka. Sampai saat ibuku telah tiada. Mereka pun sadar.”
Tentu
saja aku mengerti apa yang ibu ini ucapkan tapi, aku bingung nenek yang kulihat
ini siapa? Nenek yang kulihat pun tersenyum. Kemudian dia menghilang. Semua
pedagang berkumpul di dekat anak si nenek. Ternyata nenek meninggal karena
sakit. Selama ini beliau bekerja keras sehingga mengabaikan kesehatannya. Dan
tempat tidur di dekat pos satpam itu sebelumnya dikerjakan oleh nenek karena
belum selesai si satpam lah yang menyelesaikannya. Nenek sangat menyukai kucing
namun, dia tak pernah bisa memelihara kucing. Hal itu yang menjelaskan mengapa
beliau selalu baik kepada kami. Para kucing terlantar.
Ternyata
di dunia ini masih ada manusia baik yang peduli kepada binatang seperti kami. Selama
ini aku berpikir manusia itu kejam. Kucing yang tak bersalah pun dibuang.
Sekarang pandanganku kepada manusia sudah berubah. Ini berkat nenek. Aku si
Pus. Kucing terlantar. Aku dan teman-temanku masih tinggal di pasar palima.Takdir
kucing itu berbeda-beda kan? Takdir buruk untuk si hitam yang mati tertabrak
mobil. Takdir baik untuk si cerewet yang dipungut oleh orang. Dan takdir bagiku
juga teman-temanku sedikit lebih baik yang tetap tinggal di pasar kumuh. Tak
takut lagi kelaparan ataupun disiram air bekas ikan oleh pedagang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar