Minggu, 22 Mei 2016

The Destiny

Bau amis ikan di pasar ini hal yang aku suka. Setiap hari aku selalu mengunjungi pedagang ikan untuk meminta belas kasihan mereka. Biasanya jika aku menggunakan muka sedih,mereka akan iba lalu memberikan aku ikan lezat. Ikan memang makanan kesukaan kucing kan? tapi tak jarang juga pedagang menolak memberikan ikan kepadaku. Dan hal terburuknya,aku sering dimandikan menggunakan air bekas rendaman ikan yang sangat amis. Aku sangat benci disiram. Bulu-buluku basah dan lengket.Aku seperti kucing bodoh yang berbau ikan. Apakah para pedagang ikan memang kejam ya? Padahal aku tidak mencuri ikan-ikan mereka. Aku meminta baik-baik pada mereka. Apakah memang nasibku, kucing kampung yang dibuang oleh pemiliknya di pasar kumuh ini.

       ah!cukup mengeluhnya .Kita belum berkenalan kan? Namaku pus (Karena pedagang ikan banyak yang memanggilku begitu). Aku kucing kampung bertubuh sedang, berbulu kuning keemasan. Aku sudah lima tahun tinggal di pasar palima ini. Usiaku? Aku juga tidak tahu usia ku ini .Aku tidak tinggal sendirian disini. Kira-kira ada 20 ekor kucing kampung terlantar sepertiku yang tinggal di pasar ini. Banyak sekali bukan? karena pasar ini sudah seperti tempat tinggal gratis bagi kucing-kucing yang terlantar.

     Aku dan teman-temanku mengerti bahasa manusia. Jadi kami tahu apa saja yang mereka bicarakan dan apa saja yang mereka tulis. Khususnya kami sangat tahu apabila mereka benci kepada kami, para kucing terlantar ini. Untungnya para pedagang tak mengerti bahasa kucing. Jadi kami tak perlu takut untuk membicarakan mereka meskipun mereka ada di depan kami. Kami juga harus berhati-hati selama tinggal di sini. Terkadang kami dikejar-kejar oleh satpam pasar, karena salah satu dari kami mencuri ikan asin kecil salah satu pedagang.

     Kalau aku pikir betapa pelitnya manusia ini. Satu ekor ikan asin kecil saja membuat  kami dikejar-kejar sampai ke jalan raya dan tragisnya lagi salah satu dari temanku, si kucing hitam tertabrak mobil, karena dia berlari sampai ke tengah jalan. Si satpam yang melihat itu bukannya menolong, tapi dia kembali masuk ke pasar. Aku dan teman-temanku pun hanya diam mematung di trotoar. Kami menangis. Ah! Betapa sialnya nasib mu hitam.

    Itu salah satu cerita sial kami dari 1001 nasib sial yang menanti .Tapi tenang saja, di pasar ini masih ada pedagang yang sangat baik hati. kami para kucing memberikan julukan untuknya, nenek para kucing. Pedagang ini menjual lilin dan korek api. Hanya dua jenis barang itu saja yang dia jual tapi, nenek ini sering membelikan kami ikan. Saat dia makan siang, nenek selalu memberikan kami sedikit jatah makan siangnya.Betapa baiknya nenek ini. Nenek juga tak pernah mengeluh meskipun terkadang dagangannya tidak laku satu buah pun. Beliau selalu tersenyum. Manisnya senyumanmu nek, membuat aku menjadi damai.

     Selain nenek, ada juga salah satu pengunjung pasar yang baik hati. Beberapa hari yang lalu kami sedang bermain mencari kucing, di mana ada satu kucing yang matanya di tutup dan kucing yang lain harus bersembunyi. Salah satu temanku, si cerewet bersembunyi di dekat gorong-gorong dibawah batu. Kemudian aku melihat ada gadis cantik berkacamata yang melihat si cerewet. Gadis itu heran mengapa si cerewet ada disitu. Jadi,dengan tangannya yang panjang dia menggapai ke arah si cerewet. Dengan cepat gadis itu memasukkan cerewet ke dalam tas kecilnya. Lalu si cerewet pun di bawa olehnya.
           
   “kamu terlantar ya? Mari pulang bersamaku. Kau lucu sekali. Di rumahku sudah banyak teman-temanmu yang menanti”. Aku mendengar gadis itu berbicara kepada si cerewet.

   Gadis yang baik bukan? Betapa beruntungnya si cerewet. Dia mendapatkan majikan yang menyayanginya. Aku sedikit iri, tapi takdir untuk kucing itu berbeda-beda kan? takdir buruk untuk si hitam yang mati ditabrak mobil. Takdir baik untuk si cerewet yang di punggut orang. Dan untukku? aku tetap di pasar ini saja itu mungkin juga berubah.

***
      
      Hari ini hari minggu. kenapa aku bisa tahu? Apakah aku punya kalender? Hp? Gadget? Jangan bercanda kawan! Aku saja tidak mempunyai kertas berharga yang sering diperebutkan itu (uang). Lalu bagaimana caranya aku bisa membeli benda-benda itu? Aku tahu hari ini hari minggu karena para pedagang ikan berkata seperti itu. Hari minggu biasanya para pedagang akan kebanjiran pembeli. Karena hari Minggu adalah hari libur. Pasar akan buka lebih awal dan selesai lebih siang. Pasar yang pada hari biasa buka pukul 06.00 pagi dan tutup pukul 10.00 pagi akan berubah menjadi buka pukul 05.00 pagi dan tutup pukul 12.00 siang.

     Pagi ini, diluar pasar langit masih gelap. Udara dingin masih berhembus di lingkungan pasar. Lampu-lampu jalan masih menyala. Sinar kuningnya menyinari jalanan di depan pasar seolah menggantikan cahaya mentari yang masih tertidur di ufuk timur. Para pedagang pun sudah bersiap-siap membuka toko dan tempat dagangan mereka. Bahkan beberapa diantara mereka sudah siap untuk menawarkan dagangannya. Para pembeli pun sudah banyak yang datang. Kemudian mereka berbondong-bondong memasuki pasar. Mereka banyak memakai jaket, karena udara masih dingin sekali.

       Aku pun malas untuk keluar hanya untuk melihat para pedagang. Aku memilih berbaring disini saja, dipangkuan nenek. Kulihat teman-teman kucingku masih bersembunyi di bawah kursi para pedagang. Mereka terlelap. Bermimpi tentang ikan. Alangkah lucunya wajah teman-teman saat tertidur. Seperti malaikat (padahal bertemu malaikat saja aku belum pernah). Ada juga yang tetap terjaga . Saling berpelukan agar badan mereka tetap hangat. Hari ini nenek terlihat bersemangat untuk menawarkan dagangannya. Aku pun ingin membantu, tapi aku hanya bisa bersuara meong saja.
           
   “pus kamu ingin membantu nenek ya? Baiklah.Nanti jika barang-barang nenek terjual semua,nenek akan membeli ikan yang sangat besar untukmu pus”. Nenek tertawa melihatku

    Hore ikan! Aku berteriak dalam hati. Setelah dagangan nenek habis terjual. Nenek tak lupa  menepati janjinya padaku. Aku mendapatkan 1 ekor ikan sarden. Aku panggil teman-temanku untuk menikmati ikan ini bersama-sama. Sementara aku memakan ikan, ku lihat nenek selalu memegangi kepalanya.Wajahnya juga terlihat pucat. Apakah Nenek sakit? Mungkin nenek kelelahan.

      Esok harinya Nenek tidak berjualan. Ia digantikan oleh seorang ibu yang kira-kira usianya sama dengan pedagang di sebelahnya (sebelumnya aku tahu pedagang itu berusia 40 tahun). Mungkin itu anak si nenek. Tapi nenek kemana? Apakah benar nenek kesayangan kami sedang sakit? Yang pasti sejak nenek tidak berjualan lagi kami kehilangan orang baik yang selalu memberi kami makan. Aku sedih sekali.Bahkan ada teman kucing ku si putih menangis.
           
   “Pus aku lapar.Biasanya nenek yang selalu memberi kita makan.Mencari makan sendiri tidak membuat perutku kenyang pus,”
           
  “Mau bagaimana lagi putih, Nenek kita mungkin sedang sakit dirumahnya.” Aku mencoba menghibur putih.

***

      Sudah genap satu bulan sejak nenek tak datang ke pasar untuk berjualan. Ada rasa rindu juga buat nenek. Anehnya para pedagang ikan yang selalu mencoba mengusir kami saat kami datang, kini berubah menjadi pemurah. Apakah kebaikan hati nenek berhasil menyihir para pedagang ikan yang pelit ini? Aku tidak tahu. Yang aku tahu hari ini kami pesta ikan. Bukan hanya ikan, teman-temanku ada juga yang diberi udang dan cumi. Wah! ini nikmat yang besar. Kami tidak takut lagi kelaparan.

     Setelah pesta ikan kami di bawa oleh beberapa pedagang ikan menuju ke pos satpam. Oh! Apa ini? Apakah pesta ikan tadi adalah jebakan untuk membuat kami akan dihukum lagi? Aku ketakutan.Teman-temanku pun ingin kabur. Namun, kekuatan kucing tidak sebanding dengan kekuatan manusia ini. Akankah kami di siram lagi? Atau lebih parah dari itu? Alangkah sialnya nasib kami.

     Ternyata kami salah sangka. Si satpam yang sekejam harimau telah berubah jadi selembut merpati. Bahkan satpam pasar ini pun membuatkan kami tempat khusus untuk tidur. Sungguh aku tidak pernah berpikir bahwa mereka akan memperlakukan kami dengan baik seperti saat ini. Tempat tidur itu berada di sebelah ruangan satpam. Ruang kecil. Bekas gudang yang sudah tidak terpakai . Didalamnya sudah tersusun rak-rak kecil beralaskan kain

  “ini tempat tidur kalian. Tapi ingat,jangan kalian buat tempat ini berantakkan.Maafkan aku ya, karena dulu pernah mengejar kalian dan membuat salah satu dari teman kalian mati tertabrak mobil.”

    Mendengar kata maaf yang tulus itu, kami sangat senang. Kami pun mencakar-cakar kaki si satpam dengan lembut sebagai tanda bahwa kami memaafkan dia. Hore! Teman-teman kita tidak perlu tidur di bawah bangku-bangku pedagang lagi. Tidak akan kedinginan. Sekarang kita punya tempat tidur yang nyaman. Semua teman-temanku pun mencoba tempat tidur itu. Ada beberapa yang pergi untuk memberitahukan pada kucing yang lain. Rasanya ada yang kurang. Nenek!!! Apa kabar nenek ya?
           
   Aku bergegas meninggalkan ruang tempat tidur kami menuju kios nenek . Dan kau tahu? Ada!!! Nenek ada disana! Dengan senyum di wajahnya, ia memandang kearahku. Beliau diam. Mengapa? Bukankah seharusnya dia menawarkan dagangannya? Kenapa anaknya masih menggantikan nenek? Nenek kan sudah sembuh. Aku bingung. Ku dekati nenek dan menyapanya. Tapi yang merespon anaknya.
           
  “o,kamu si pus ya?” kemudian dia meletakkan aku di atas pangkuannya. Aduh,kenapa ibu ini? Aku lalu turun dan menuju kepangkuan nenek. Ibu itu heran. Dia menatap. Terdiam sejenak.  
           
   “si pus nenek yang biasa berjualan di sini sudah meninggal.Sudah satu bulan yang lalu. Ibuku pus, sudah meninggal. Kau mungkin tidak mengerti apa yang ku katakan pus. Semua pedagang ikan yang berubah, ini karena ibuku. Dia selalu menasihati mereka. Sampai saat ibuku telah tiada. Mereka pun sadar.”
           
    Tentu saja aku mengerti apa yang ibu ini ucapkan tapi, aku bingung nenek yang kulihat ini siapa? Nenek yang kulihat pun tersenyum. Kemudian dia menghilang. Semua pedagang berkumpul di dekat anak si nenek. Ternyata nenek meninggal karena sakit. Selama ini beliau bekerja keras sehingga mengabaikan kesehatannya. Dan tempat tidur di dekat pos satpam itu sebelumnya dikerjakan oleh nenek karena belum selesai si satpam lah yang menyelesaikannya. Nenek sangat menyukai kucing namun, dia tak pernah bisa memelihara kucing. Hal itu yang menjelaskan mengapa beliau selalu baik kepada kami. Para kucing terlantar.


   Ternyata di dunia ini masih ada manusia baik yang peduli kepada binatang seperti kami. Selama ini aku berpikir manusia itu kejam. Kucing yang tak bersalah pun dibuang. Sekarang pandanganku kepada manusia sudah berubah. Ini berkat nenek. Aku si Pus. Kucing terlantar. Aku dan teman-temanku masih tinggal di pasar palima.Takdir kucing itu berbeda-beda kan? Takdir buruk untuk si hitam yang mati tertabrak mobil. Takdir baik untuk si cerewet yang dipungut oleh orang. Dan takdir bagiku juga teman-temanku sedikit lebih baik yang tetap tinggal di pasar kumuh. Tak takut lagi kelaparan ataupun disiram air bekas ikan oleh pedagang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar